Ayo bertani agar tak makan beras plastik!
Membaca beberapa artikel tentang pertanian, janggal sekali rasanya melihat anak muda zaman sekarang tak mau menjadi petani. Pasalnya menurut mereka menjadi seorang petani memiliki status sosial yang rendah.
Memang benar, efek pascaorde baru sangat berpengaruh. Terdapat perubahan yang cukup signifikan dalam pola kehidupan sosial masyarakat pedesaan, khususnya di Pulau Jawa. Perubahan ini dapat dilihat dari segi pekerjaan, gaya hidup, hingga struktur demografi. Pertanian tidak lagi menjadi mata pencaharian utama masyarakat pedesaan. Banyak dari mereka yang beralih ke bidang jasa, perdagangan, atau industri.
Orang yang mau bertani umumnya adalh para pensiunan, atau orang-orang yang sudah tidak dibutuhkan didunia industri. Usia para petani menjadi semakin tua, sementara generasi yang lebih muda tidak tertarik untuk bekerja sebagai petani.
Luas lahan yang ada tak berbanding dengan pengolah lahan, sehingga tak heran kalau negara kita sering import bahan pangan dari luar negeri.
Saya adalah seorang mahasiswa abadi dengan jurusan yang bertolak belakang dengan dunia pertanian. Saya sangat tertarik menulis artikel pertanian ini. Karena dengan menulis artikel ini, saya mau tidak mau harus memahami betul bagaiman sikap petani, penderitaan petani dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga tahu bagaimana dan seperti apa kayanya sumberdaya alam kita.
Menurut saya, lucu sekali kalau kita harus import pangan dari luar negeri, bahkan yang membuat saya haru tertawa geli adalah ketika mendengar isu beras plastik.
Menjadi petani menurut saya adalah pekerjaan yang derajadnya paling tinggi, karena mereka menyediakan sumber pangan untuk manusia lainnya. Coba bayangkan saja, kalau tidak ada petani. Yakin masih bisa makan beras sungguhan? Atau mau beralih makan beras plastik?
Sebenarnya hanya kekhilafan di dunia pendidikan saja. Para pendidik enggan memberitahukan bahwa bertani itu adalah pekerjaan yang mulia. Meraka juga tak mengajarkan bagai mana bertani dengan cerdas. Baru kalau sampai jenjang universitas, dengan jurusan pertanian bisa diajarkan. Tapi, ada khilap lagi disana. Seorang sarjana peranian selalu berego tinggi. Mereka menganggap, mereka yang paling pintar sedangkan petani-petani senior yang paling bodoh.
Untung para petani kita ikhlas kalau dianggap paling bodoh, kalau tidak? Mereka pensiun bertani. Yakin masih bisa makan beras sungguhan? Atau mau beralih makan beras plastik?
Komentar
Posting Komentar